Bupati Bekasi Tersangka KPK, Mahasiswa Syukuran Bakar Ikan dan Ayam

Bagikan:

Mahasiswa di Kabupaten Bekasi, Selasa (16/10), mendadak bakar ikan dan ayam di area Komplek Pemerintah Kabupaten Bekasi.

CIKARANG – Sejumlah mahasiswa di Kabupaten Bekasi, Selasa (16/10), mendadak bakar ikan dan ayam di area Komoleka Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Aksi tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas penetapan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin yang diduga menerima suap atas proyek pembangunan superblok Meikarta seluas 774 hektare.
“(Aksi) sebagai salah satu bentuk rasa bersyukur kami. Karena hari ini KPK sendiri sudah melakukan kerja yang sangat bagus, kerja keras yang dari mulai akhir tahun kemarin hingga sekarang membuahkan hasil yang bagus,” kata koordinator aksi dari BEM STT Pelita Bangsa, Jaelani, di lokasi.
Jaelani mengatakan, selama menjabat bupati, Neneng seakan tidak pernah peduli terhadap nasib masyarakat Kabupaten Bekasi. Menurutnya, Neneng hanya mengumbar janji ke masyarakat, sebab masih banyaknya pekerjaan rumah yang belum dikerjakan oleh Neneng.
“Selama ini bupati hanya pencitraan saja. Di perbatasan Bekasi sendiri contohnya, Cibarusah masih ada sekolah roboh. Bahkan fasilitas sarana untuk melakukan belajar mengajar tidak layak. Belum kekeringan di mana-mana padahal selama ini gembar gembor (ingin) sejahterakan rakyat,” kata Jaelani.
Neneng menjadi salah satu tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Kabupaten Bekasi dan Surabaya, pada 14-15 Oktober.
Neneng merupakan Bupati 2 periode, pada periode kedua ini 2017-2022 wanita dengan 3 anak tersebut menjadi tersangka KPK bersama dengan Kabid Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Neneng Rahmi, Kadis PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi Sahat MBJ Nahor, serta Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bekasi Dewi Trisnawati.
Neneng bersama pejabat-pejabat Pemkab Bekasi itu diduga menerima suap sebanyak Rp 7 miliar, dari komitmen pemberian senilai Rp 13 miliar. Sementara pemberi suap adalah Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro; konsultan Lippo Group Taryudi dan Fitra; serta pegawai Lippo Group bernama Henry. Keempat orang tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka.
Neneng dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12 B Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP dengan sangkaan sebagai penerima suap.
Sementara pihak-pihak yang menjadi pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.(jie)