Dinilai Gagal, Ade Puspitasari Disinyalir ‘ngemis Suara’ Untuk Kembali Pimpin Golkar Kota Bekasi

KOTA BEKASI – Partai Golkar Kota Bekasi dinilai kehilangan marwah politiknya setelah terpuruk dalam perhelatan Pilkada Kota Bekasi 2024. Bila merujuk pada Pilkada lalu, pasangan calon yang diusung DPD Golkar Kota Bekasi menempati urutan paling buncit dari 3 paslon yang bertarung dalam perolehan suara.

Bagi sebagian kader, kekalahan dipilkada lalu bukan sekadar angka di bilik suara, namun terlihat bagaimana rapuhnya kepemimpinan Ade Puspitasari selaku Ketua DPD Golkar Kota Bekasi.

Ade Puspitasari, kini dianggap menjadi simbol atau cerminan atas krisis tersebut. Alih-alih melakukan evaluasi menyeluruh, Ade justru tampil dengan gaya kepemimpinan yang terlihat melemahkan kesolidan kader partai.

Menjelang Musyawarah Daerah (Musda), iandisinyalir “mengemis suara” kepada pengurus kecamatan partai Golkar demi mempertahankan kursinya.

“Ade tidak lagi memimpin, ia merayu. Golkar bukan rumah politik yang berwibawa, melainkan panggung tawar-menawar suara,” ungkap seorang kader yang tidak ingin disebutkan identitasnya, Selasa (29/9/2026).

Kader tampak mengukur bahwa DPD Golkar Kota Bekasi gagal membaca aspirasi publik. Pilkada 2024 menjadi bukti bahwa mesin partai lumpuh, strategi politik tumpul, dan komunikasi internal tercerai-berai. Bukannya memperbaiki arah, kepemimpinan Ade justru menekan struktur bawah untuk mendulang dukungan personal.

“Golkar kehilangan marwah, karena kepemimpinan yang lebih sibuk mempertahankan posisi, ketimbang membangun kepercayaan rakyat. Kader harus berani ambil sikap dan menghitung ulang siapa sosok yang pantas memimpin Golkar Kota Bekasi kedepan,” tegasnya.

Sebelumnya, Kader Golkar Medan Satria sekaligus Ketua PK, H. Suryo Harjo, menyatakan kekecewaannya atas pola kepemimpinan saat ini. Terlebih menurutnya, Musda mendatang dipandang sebagai ujian krusial bagi Golkar Kota Bekasi.

Momentum ini akan menentukan apakah partai mampu keluar dari bayang-bayang kepemimpinan yang dinilai justru semakin terjebak dalam pola kepentingan pribadi.

Selain itu ia menuntut adanya pembaruan menyeluruh supaya Partai Golkar Kota Bekasi kembali solid dan dipercaya oleh publik.

“Kami berharap Musda kali ini benar-benar menjadi titik balik. Golkar harus kembali ke jalur demokratis, bukan sekadar alat kepentingan keluarga,” pungkasnya.(RON)