Kisah Seorang Tenaga Keamanan Rangkap Jukir Puskesmas, Gaji Dipotong dan Berakhir Dipecat

M Husni (62) tenaga keamanan Puskesmas Teluk Pucung yang gaji Dipotong bersama Putrinya

KOTA BEKASI – Rasa ketidakadilan dan penindasan selalu dialami bagi kaum miskin. Seperti kisah dalam film Drama China (Dracin), orang miskin kerap menjadi objek penindasan serta penghinaan dalam kehidupan.

Kisah Dracin itu mungkin mirip-mirip yang dialami oleh Muhammad Husni (62), seorang tenaga keamanan dan juru parkir di sebuah puskemas di wilayah Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Pria lanjut usia yang mengaku telah bekerja selama 21 tahun di Puskesmas Teluk Pucung merasa Dizolimi karena gaji yang biasa diterimanya ternyata dipotong setiap bulannya.

Menurut penuturannya, sejak 2018 pembayaran dialihkan melalui bank, namun kartu ATM beserta pin-nya tidak pernah ia pegang.

“Mereka bilang uang Rp 1,8 juta itu untuk kontribusi pusat. Tapi saya tidak pernah diberi penjelasan resmi apa-apa,” ujar Husni, dengan nada sedih.

“Saya tiap hari masuk kerja. Bahkan saat sakit pun tetap hadir. Kalau saya tidak masuk, silakan tanya warga yang berobat di sini,” tegas Husni dengan suara lantang saat ditemui di kediamannya, Rabu (17/09/25).

Pemotongan gaji bulanan Husni ketahui ketika anaknya memeriksa rekening bank dan menemukan fakta bahwa gaji resminya sebesar Rp 3 juta per bulan. Namun, selama bertahun-tahun, Husni hanya menerima Rp 1,2 juta secara tunai setiap bulannya.

“Tidak pernah tahu saya gaji sebenarnya. Dari awal ATM dan buku tabungan dipegang pihak puskesmas, bahkan PIN juga diminta. Saya hanya nerima cash lalu tanda tangan,” keluhnya.

Kepala Puskesmas Teluk Pucung sendiri mengakuinya adanya pemotongan gaji terhadap Husni selaku pekerja keamanan ditempatnya. Kepada awak media, dia mengatakan pemotongan gaji tersebut disebabkan karena performa pekerja yang menurun.

Husni juga membantah tuduhan bahwa absensi yang buruk. Warga sekitar dapat menjadi saksi kehadirannya yang konsisten. Dia mengatakan setiap pagi sudah menyapu halaman. Bahkan malam hari jika dipanggil, dirinya pasti datang.

“Tidak pernah ada sistem absen fingerprint atau tanda tangan. Jadi tolok ukurnya apa? Kalau saya bolos, kenapa tidak pernah ada komplain selama 21 tahun?” tandasnya.

Kini, masalah kian runyam dialami oleh Husni setelah sebuah video mengenai potongan gaji terhadap dirinya viral di media sosial. Alih-alih mendapat keadilan, ia justru diberhentikan secara sepihak tanpa surat resmi.

“Saya dipanggil lalu dibilang besok tidak usah masuk lagi. Alasannya, saya sudah lansia,” katanya dengan nada kecewa.

Husni berharap ada intervensi dari pemerintah. Ia menyampaikan permohonan bantuan hingga ke tingkat pusat.

“Kepada Pak Gubernur dan Pak Presiden, saya mohon keadilan. Saya hanya rakyat kecil yang menuntut hak hasil keringat sendiri,” pintanya dengan suara bergetar.(RED)