Dinas Perikanan Berikan Pelatihan Digitalisasi untuk Pembudidaya Udang

CIKARANG – Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi, Agus Trihono memberikan apresiasi pada para pembudidaya udang yang ikut serta dalam pelatihan program digitalisasi.

Pelatihan ini kata Agus, mengajak kepada pembudidaya tambak udang untuk mengerti terkait digitalisasi program aplikasi yang bisa dipakai oleh para pembudidaya untuk menajemen pemeliharaan.

“Misalnya ada sebuah program atau alat yang digunakan di tambak yang dia secara sistematik akan melaporkan pada kita dengan aplikasi memberikan informasi mengenai kondisi air, perkemabnagn ph air, kelembapan juga microorganisme yan ada di dalam air tambak,” katanya.

Sehingga dengan digitalisasi itu, petambak bisa terus meninjau setiap harinya dan bisa melakukan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan.

“Kaya semisal jika terjadi airnya keruh dan phnya meningkat di dasar kolam maka para pembudidaya udang akan berhemat pemberian pangannya akan menimbulkan gas yang sangat membahayakan udang,” katanya.

Untuk pemasaran udang, ada sebuah sistem aplikasi jalan teks bisa memantau perkembangan aetiap harinya di beberapa daerah. Seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur atau juga beberapa?kota di pesisir laut.

“Bagaimana fluktuasi perkembangan harga bisa dipelajari dan dilihat dalam aplikasi ini berguna sekali kapan kita harus menjual udang, dan kapan kita harus memulai menanam udang sehingga ajan menghasilkan harga jual yang baik,” katanya.

Itulah sebabnya aplikasi digitalisasi yang harus digunakan oleh para pembudidaya udang air payau secara keseluruhan. Pelatihan ini mengarahkan mereka untuk bisa memanfaatkan peluang aplikasi digital ini kedepannya.

Digitalisasi dalam hal budidaya berupa peralatan dan pengolahan dan penyimpanan data produksi.
Digitalisasi dalam pemasaran berupa penggunaan sarana media digital untuk penjualan hasil budidaya.

Pada tambak-tambak besar yang sudah masuk pada skala industri sudah mengaplikasikan digitalisasi ini pada proses budidaya. Namun untuk skala kecil menengah baru mempergunakan dalam bentuk perangkat sebagai penunjang produksi pada budidaya.(*)