Muaragembong Krisis Air Bersih, Pemkab Bekasi Masih Cuek

Bagikan:

MUARAGEMBONG -Warga Kampung Poncol,Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih.
Krisis air bersih di Muara Gembong sudah hampir tujuh bulan lebih. Sumur-sumur bor yang dimilik warga tidak mengeluarkan air, untuk mencuci dan mandi warga terpaksa menggunakan air sungai yang sudah tercemar limbah industri.
Setidaknya ada ratusan kepala keluarga mengalami kesulitan air bersih. Beberapa rumah warga yang kunjungi tidak memiliki sumur terpaksa menggunakan air sungai yang berwarna hitam pekat.
Ratusan warga membeli air bersih dari penjual air yang juga membeli air bersih dari Cilincing, Jakarta Utara. Untuk sampai ke Cilincing, para penjual air di Muara Gembong harus naik perahu selama satu jam. Air bersih lalu mereka ditampung diregen.
Hasanah (39) salah satu warga Muara Gembong menuturkan, setiap tiga hari sekali membeli 10 diregen i air bersih.
“Satu derigen harganya Rp 5.000, untuk kebutuhan masak, air hangat. Kalau minum kami pakai galon isi ulang,” ujar Hasanah pada Senin (21/10/19).
Sedangkan kebutuhan mandi, mencuci baju dan lainnya, kata Hasanah, beberapa warga mengandalkan air sungai Bekasi. Namun, kualitas air di Sungai Bekasi sudah sangat memprihatinkan lantaran sudah tercemar limbah industri dan hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian.
“Kalau warga yang mampu, mereka membeli air galon dan melakukan pemboran sendiri untuk air.
Meskipun melakukan pengeboran untuk pembuatan sumur, namun, kedalam pengeboran harus mencapai delapan puluh hingga sembilan puluh meter kedalamannya.kalau tidak kedalamannya segitu tidak akan dapat mata air,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Nadim (44) . Sejak tinggal di Muara Gembong pada 2001, ia mengaku sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Bapak tiga anak ini hanya mengandalkan air dari sumur untuk kebutuhan hidupnya.
Namun, kondisi sumur sudah hampir tujuh bulan mengalami kekeringan dan tidak mengeluarkan air untuk mandi dan mencuci dirinya bersama dengan istri dan anak-anaknya terpaksa menggunakan air kali bekasi yang berwarna hitam pekat.
“Untuk mandi dan mencuci pakaian saya menggunakan air sungai Bekasi yang sudah tercemar, meski khawatir dengan kesehatan dirinya dan keleluarganya, terpaksa melakukan ini karena sudah tidak ada sumber mata air lagi,” kata Nadim.
Sejak mengalami krisis air yang sudah hampir tujuh bulan, Nadim mengaku tidak pernah ada bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi.
“Warga disini sudah seperti anak tiri saja, sejak tujuh bulan lebih warga mengalami krisis air, tetapi tidak pernah mendapatkan bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi,” katanya.
Meski hasil bumi dan laut di Kecamatan Muara Gembong sangat melimpah, Pemeritah Kabupaten Bekasi sepertinya tutup mata dengan kondisi warga Muara Gembong yang mengalami krisis air yang berkepanjangan ini.
“Jangan lagi ada perlunya saja mendatangi warga, kalau lagi begini Pemerintah seperti tutup mata,” tandasnya.(KBT)