Poesaka Noesantara Ajak Generasi Bangsa Implementasikan Pancasila

Bagikan:


JAKARTA – Poesaka Noesantara gelar deklarasi dan pengukuhan stuktur pengurus untuk selamatkan aset nusantara di Hall Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia indah (TMII) Jakarta Timur.
Acara deklarasi di ikuti para pengurus Poesaka Noesantara dari berbagai wilayah yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Gerakan Poesaka Noesantara Kembali masih berpedoman pada pancasila dan undang-undang dasar (UUD) negara Republik Indonesia 1945 dan bhineneka tunggal ika dengan hal itu reformasi pembangunan yang sedang berjalan akan lebih terarah dan terasa manfaatnya oleh rakyat bahkan bisa dijadikan spirit bagi persatuan perdamaian dunia.
Ketua umum Poesaka Noesantara, Imam Sugiarto menuturkan deklasi tersebut untuk menyelamatkan aset-aset nusantara untuk tujuan yang mulia  dan bermanfaat bagi masyarakat luas rakyat indonesia
“Dengan penuh rasa syukur atas rahmat dan hidayah kepada kita semua. Sebagaj putra negeri nusantara dan juga kepada kepada sesepuh dan pini sepuh serta 126 para raja nusantara, pejuang kemerdekaan yang rela berkorban dengan jiwa dan raga demi suatu kemerdekaan bangsa Indonesia yang hakiki dan juga kepada saudara sebangsa dan sahabat, ayah, ibunda yang telah memberikan dukungan moral dan do’a. Malam ini kita deklarasikan gerakan Poesaka Noesantara Kembali dalam rangka menyelamatkan aset-aset nusantara untuk tujuan yang mulia  dan bermanfaat bagi masyarakat luas rakyat Indonesia turut berpartisipasi mensukseskan pelaksanaan program pembanguna disegala bidang yang berlansung terus untuk dapat mewujudkan tujuan nasional,” jelasnya.
Imam menambahkan, bersatunya 126 raja diseluruh nusantara adalah cikal bakal berdirinya Republik Indonesia didalam berbanga dan bernegara yang telah dilupakan oleh sebagian besar anak bangsa. Nilai pengorbanan luruh pun tak lagi dijadikan semangat rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Berbangsa dan bernegara bahkan nilai-nilai dari aset rakyat kekayaan yang dimiliki para raja nusantara dan keturunannya kini berada di lorong yang angat sunyi dengan ramai hiruk pikuknya eforia reformasi dan demokrasi ala asing yang justru menyudutkan negeri nusantara,” kata Imam.
Imam mengatakan masyarakat saat ini memerlukan reinterprestasi, internalisasi, optimalisasi dan reaktualisasi dari arti nusantara dalam diri setiap anak bangsa Indonesia supaya menjadi karakter sejati dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara.
“Jika kalau nilai budaya yang kaya raya kearifan lokal dan sumber daya yang berlimpah ruah dalam negeri nusantara ini dapat di aktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara konsekuen, tepat dan benar dengan dasar serta dilandasi rasa cinta kasih sayang,” katanya.
“Internalisasi dan reaktualiasi Poesaka Noesantara Kembali yang berpedoman dengan pancasila UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika harus bisa menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik. Tidak hanya dijadikan slogan tidak ada implementasinya,” imbuhnya.
Adanya Poesaka Noesantara Kembali, ini bisa menjadi bisa menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara dari tingkat pusat hingga daerah dalam menjalankan roda pemerintahan demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini sebagai generasi pewaris bangsa merasa sangat prihatin karena sekarang ini anak-anak sekolah seakan-akan tidak memahami norma yang terkandung di setiap butir pancasila,” ujarnya.
Dengan hanya pancasila dibaca tetapi tidak diamalkan dan dijiwai, bagaimana para penerus bangsa ini bisa maju.
“Jika anak bangsa dalam kehidupan tanpa berpedoman dengan pancasila tidak mau tau arti dari pancasila, Bhinneka Tunggal Ika kita akan terpecah belah,” katanya.
“Setiap suku bangsa sudah tidak lagi menghargai persatuan Indonesia maka dari itu Poesaka Noesantara dibumi indonesia harus ditegakan kembali, Noesantara harus tetap ada untuk selama-lamanya,” tambahnya.
Imam mengajak bangun negeri nusantara dengan rasa cinta dan kasih sayang namun bukan kebencian, permusuhan saling menghasut dan adu domba. Kita sebagai pewaris negeri nusantara melihat tantangan dan harapan yang menghampar dimasa depan, harus dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional.
“Meningkatkan rasa kebangsaan nasional, kesetia kawanan, kesadaran pada sejarah Bangsa Indonesia dan Janganlah kita melupakan serta meninggalkan para pejuang pendahulu, jangan melupakan sejarah Republik ini kita harus menghargai dan menjunjung tinggi jasa 126 raja nusantara” tandasnya.
“Adalah tugas kita untuk melanjutkan membawa seluruh rakyat nusantara kedalam rumah kemerdekaan yang ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja,” tutupnya.(*)