
BERITABEKASI.CO.ID, BEKASI TIMUR – Ratusan mahasiswa yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Bekasi yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam ’45 (Unisma) dan Senat Mahasiswa Fisip Unisma menggelar aksi mimbar bebas melakukan penolakan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dalam aksi tersebut mahasiswa juga melakukan demo teatrikal permainan para mafia migas yang menaikkan harga BBM di depan kampus Unisma Jl. Cut Meutia, Selasa (18/11/2014).
Kordinator Aksi Didi Mulyawan, mengatakan menaikkan harga BBM adalah bukan sebuah solusi bagi perbaikan kesejahteraan Bangsa Indonesia. “Menaikkan harga bukan solusi karena anggaran pemerintah sebenarnya masih lebih, hanya saja tidak dipublikasikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, dari produksi minyak 840 ribu barel pertahun hanya 18 persen yang diolah oleh pemerintah Indonesia, selebihnya pengelolaan dilakukan oleh pihak asing. Dia beranggapan hal itu tidak sejalan dengan UUD ’45 pasal 33 ayat 3 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
Dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM, mahasiswa juga menegaskan bahwa subsidi adalah merupakan hak yang harus didapatkan oleh rakyat. Sehingga pemerintah berkewajiban untuk menyampaikannya, dimana APBN berasal dari rakyat.
Pembatasan subsidi BBM lanjut Didi hingga upaya menaikkan harga BBM merupakan pembodohan yang dilakukan oleh pemerintah kepada rakyat. Oleh karena itu pihaknya dengan tegas melakukan penolakan dengan tuntutan agar harga BBM tetap pada harga saat ini.
“Kurangi produksi kendaraan dan larang pengguna mobil memakai BBM subsidi, kemudian tambah jumlah subsidi untuk rakyat dan nasionalisasi kekayaan Indonesia dari pihak asing,” pungkasnya. (mas)
