
KOTA BEKASI – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD Partai Golkar Kota Bekasi, dinamika internal partai kian memanas. Isu intervensi politik mencuat, dengan dugaan adanya tekanan terhadap kader dan pengurus untuk mengarahkan dukungan kepada kandidat tertentu. Situasi ini dinilai mencederai semangat demokrasi internal yang seharusnya menjadi roh Musda.
Ketua PK Golkar Bekasi Timur, Wiwiek Hilwiyah Arief, menilai praktik intervensi yang muncul menjelang Musda hanya akan memperburuk citra Golkar Kota Bekasi di mata publik. Dia menegaskan, kepemimpinan baru harus mampu membawa perubahan signifikan bagi partai.
“Musda harusnya menjadi ruang independen bagi kader. Jika ada intervensi, maka legitimasi hasilnya akan dipertanyakan. Kepemimpinan lama terbukti tidak membawa perubahan. Tidak ada strategi politik yang jelas, tidak ada kerja nyata yang mampu mengangkat citra partai,” ujarnya, Kamis (24/9/2026).
“Akibatnya, Golkar stagnan dan kehilangan daya tarik. Musda kali ini harus jadi momentum menghadirkan wajah baru yang lebih dekat dengan masyarakat,” sambungnya.
Wiwiek menekankan, pentingnya menjaga soliditas internal. Menurutnya, Golkar sebagai partai besar tidak boleh terpecah.
“Siapapun pemimpin Golkar Kota Bekasi nanti, harus mampu menjaga kondusivitas dan mencegah perpecahan di internal. Partai Golkar itu besar,” ungkapnya.
Musda VI dipandang sebagai ujian krusial bagi Golkar Kota Bekasi. Selain menentukan figur ketua baru, Musda juga akan menjadi barometer soliditas partai menghadapi Pemilu mendatang.
Tanpa perubahan signifikan, Golkar berisiko kehilangan dominasinya di tingkat lokal dan semakin terpinggirkan dalam kontestasi politik. (RON)
