
KAB. BEKASI — Momentum syukur 100 tahun keberadaan Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia diwarnai pesan kebangsaan dan penguatan toleransi saat Jalsah Salanah 2025 yang digelar serentak di 23 titik nasional pada 5–7 Desember. Di Bekasi Raya, rangkaian acara dipusatkan di Masjid Mubarak Tambun dan dihadiri hampir 1.000 peserta dari berbagai wilayah.
Ketua Panitia Jalsah Bekasi Raya, dr. Deden Djatnika, menilai Jalsah tahun ini bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk tanggung jawab moral komunitas.
“Tradisi Jalsah sudah berlangsung lebih dari satu abad. Intinya adalah peningkatan akhlak, memperkuat silaturahmi, dan memperdalam ibadah,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung dengan sejumlah sesi, mulai dari ceramah keagamaan, pameran literatur, hingga pelaksanaan ibadah berjamaah seperti salat lima waktu, salat sunah, zikir, doa bersama, serta salat tahajud.
Mubaligh Ahmadiyah, Mln. Muhammad Ali, menegaskan bahwa Jalsah merupakan forum pendidikan rohani.
“Jalsah ditetapkan untuk meningkatkan ilmu dan memperbaiki ibadah. Jika setiap Ahmadi sadar tanggung jawabnya, masa depan Jemaat akan semakin kuat,” katanya.
Dari unsur internal Jemaat, semangat sukarelawan menjadi sorotan. Gilang Kusuma, Juru Bicara Ahmadiyah Wilayah Bekasi Raya, menyebut Jalsah berdiri atas gotong royong.
“Semua turun tangan, dari dokter, pekerja, ibu rumah tangga hingga anak-anak. Mereka meluangkan waktu demi acara yang penuh keberkahan ini,” tuturnya.
Apresiasi juga datang dari pemuka lintas agama yang turut hadir. Ketua FPKUB Grand Wisata, Sandi Siswantoro, menyebut kontribusi Ahmadiyah penting dalam merawat keharmonisan di Bekasi.
“Status minoritas bukan alasan untuk minder. Ahmadiyah punya ruang besar memperkuat moderasi beragama,” ucapnya.
Dari perspektif kebangsaan, Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika mengingatkan pentingnya keyakinan diri warga Ahmadiyah.
“Pengalaman pahit tidak boleh membuat mundur. Konstitusi kita menjamin kebebasan beragama,” tegasnya.
Ia juga menyebut sejarah kontribusi
Ahmadiyah, termasuk peran tokohnya dalam penciptaan lagu Indonesia Raya dan penerjemahan Al-Qur’an.
“Pegang prinsip ‘Love for All, Hatred for None’. Jadilah 100% Ahmadiyah, 100% Indonesia,” ujarnya.
Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia, KH Nurul Huda Haem, menambahkan pesan moral tentang peran keluarga dan kepedulian sosial. “Jika keluarga rusak, negara ikut rusak. Jadi orang saleh saja tidak cukup; jadilah muslih, pembawa perubahan,” katanya.
Pada hari terakhir, Jalsah Bekasi Raya ditutup dengan pemberian santunan kepada anak yatim di Tambun sebagai wujud komitmen sosial. Acara terhubung dengan siaran nasional yang dihadiri lebih dari 20.000 peserta di seluruh Indonesia.
Dalam pidato penutupan, Amir Nasional JAI Zaki Firdaus Syahid menegaskan perlunya soliditas dan pelayanan kepada sesama. “Al-Qur’an menegaskan agar kita berpegang pada tali Allah dan menghindari perpecahan. Wakafkan waktu untuk membantu sesepuh, orang sakit, serta mendidik anak-anak kita,” serunya.
Acara tasyakur 100 tahun Ahmadiyah di Tambun turut dihadiri tokoh pemerintahan, aparat keamanan, serta lembaga masyarakat seperti Ketua MUI Tambun Selatan, KUA Tambun Selatan, FPKUB, serta Camat Tambun Selatan Drs. Sopian Hadi, MM, Kapolsek Tambun Selatan Kompol Wuryanti, dan Kepala Desa Mangunjaya Jayadi Said.
Sejumlah aktivis nasional seperti Andreas Harsono (Human Rights Watch), Ade Armando (Cokro TV), dan perwakilan LBH serta organisasi masyarakat juga menilai Jalsah sebagai ruang dialog dan penguatan nilai kebangsaan.
Kehadiran para tokoh lintas agama, akademisi, aktivis, dan aparat keamanan memperlihatkan tekad bersama untuk merawat kerukunan serta mendukung kontribusi Ahmadiyah sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk.(**)
