Bantargebang dan Jalan Menuju Ekonomi Sirkular

Bantargebang selama ini dikenal sebagai “rumah” bagi gunung sampah terbesar di Indonesia. Setiap hari ribuan ton limbah dari DKI Jakarta ditimbun di kawasan ini. Citra yang muncul pun identik dengan bau menyengat, krisis lingkungan, pencemaran air maupun udara, kerusakan jalan serta konflik sosial menjadi wajah sehari-hari warga di sekitarnya.
Masalah ini bukan sekedar soal teknis pembuangan.

Ia mencerminkan kompleksitas urbanisasi: pola konsumsi masyarakat yang tinggi, lemahnya tata kelola, dan minimnya inovasi kebijakan. Selama sampah hanya dipandang sebagai “sisa yang dibuang”, Bantargebang akan menjadi beban lingkungan dan sosial.

Namun, di balik tumpukan sampah itu sesungguhnya tersimpan potensi besar. Dengan visi ekonomi sirkular, Bantargebang bisa bertransformasi dari sumber masalah menjadi sumber daya. Tantangan utamanya bukan hanya teknis pengelolaan, melainkan juga keberanian politik, tata kelola yang transparan dan inovasi kebijakan yang berkelanjutan.

Tekanan untuk berbenah semakin mendesak. Data Lestrasi Foundation Tahun 2025 mencatat, setiap hari lebih dari 7.000 ton sampah masuk ke TPST Bantargebang. Ketinggian gunung sampah yang sudah melampaui 40-50 meter, sementara lahan seluas ± 110 hektar nyaris mencapai kapasitas maksimum. Jika tidak ada terobosan, dalam beberapa tahun ke depan Bantargebang akan bener-bener overkapasitas.

Beberapa Langkah strategis bisa ditempuh untuk mencegah krisis. Pertama, percepatan investasi pada teknologi ramah lingkungan, seperti Refuse-Derived Fuel (RDF), komposting skala besar dan pembangkit listrik tenaga sampah, yang sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi. Kedua, regulasi yang mendukung daur ulang harus diperkuat dengan insentif nyata bagi pelaku usaha berbasis limbah. Ketiga, pemulung yang selama ini bekerja di sektor informal mesti diakui dan diberdayakan sebagai mitra resmi dalam rantai ekonomi hijau.

Transformasi Bantargebang menuntut perubahan cara pandang: sampah tidak lagi sekedar masalah, melainkan sumber daya. Dengan komitmen politik, kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, Bantargebang bisa menjadi laboratorium pengelolaan limbah perkotaan paling progresif di Asia Tenggara.

Alih-alih terus menjadi simbol kegagalan, Bantargebang bisa menjadi bukti bahwa sampah dapat dikelola secara berkelanjutan. Jalan menuju ekonomi sirkular memang penuh tantangan, tetapi langkah pertama harus segera diambil-sebelum tumpukan sampah benar-benar menelan masa depan kita.

Rintan Rizkiya Mufidah & Rahab
Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jendral Soedirman