Petani di Bekasi Keluhkan Harga Gabah Merosot

Bagikan:

Harga gabah di tingkat Petani menurun di musim panen

CIKARANG – Harga jual gabah panen di wilayah Kabupaten Bekasi merosot, disebabkan kondisi tersebut datangnya musim panen padi pertama di tahun 2021 ini.
Salah satu petani, Jarot menjelaskan, saat ini tengah panen seluas 10 kotak lahan sawah setiap kota memiliki luas 1.400 meter persegi. Ia pun mengungkapkan panen tahun ini (2021) cenderung sedikit jika dibandingkan tahun lalu.
“Ini saya panen 10 kotak, satu kotak luasnya 1.400 meter persegi kira-kira 8 ton gabah itu tahun lalu, sekarang hanya 6 ton. Kualitasnya juga kurang bagus, Ini karena cuaca kemarin kurang bagus,” ucap Jarot saat ditemui di lokasi Kantor pertanian, Desa Karang Mukti, Kecamatan Karang bahagia, Jum’at (16/7/2021).
Masih kata Jarot, harga gabah di tingkat petani saat ini pun menurun, jika dibandingkan tahun lalu. Bahkan biaya menanam dibandingkan dengan hasil panen tidak seimbang Petani pun mengaku merugi.
“Agar pemerintah kabupaten bekasi mau membeli gabah langsung dari petani, sehingga petani tidak mengalami merugi saat panen raya”ungkapnya.
Selain itu, harga gabah saat ini terbilang cenderung turun, yakni di kisaran Rp 3.500 per kilo untuk panen manual dan Rp 4.700 per kilo untuk panen dengan alat Grabag.
“Informasi harga gabah untuk panen Grabag, untuk alat panen berkisar Rp 4.000 per kilo sampai Rp 4.700 per kilo. Panen manual sampai Rp 3.500 per kilo,”bebernya.
biaya yang dikeluarkan pun tidak murah, dan bahkan sampai ada sebagian petani sampai menjual sawah karena sering adanya hama ditambah adanya pandemi dengan harga Gabah yang semakin hari merosot.
“Harapannya Bulog bisa menerima gabah dari petani lebih tinggi daripada harga biasanya. Karena kita masa panen Bulog harus menampung, bukan malah mendatangkan beras,” harapnya.
Sementara ditempat yang berbeda, Asep, petani di Desa Karang satu, ia mengeluh hal yang sama khawatir dengan harga padi yang semakin merosot semenjak pandemi.
“Terus merosot bang harga padi semenjak pandemi,”ucapnya Asep.
“Penghasilan hanya dari Gabah, jika pandemi ini tidak ada akhirnya bagaimana nasib petani di daerah, dari datangnya hama sebelum panen, bahkan sampai ada yang tidak sampai panen karena hama,” tuturnya.(*)