Kemenko Marves Tinjau Pembangunan Infrastruktur Kebencanaan di Yogyakarta dan Sekitarnya

Bagikan:


Yogyakarta – Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Deputi Ayodhia Kalake bersama Asisten Deputi (Asdep) Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air (IDPSDA) Rahman Hidayat; Asdep Infrastruktur Pengembangan Wilayah Djoko Hartoyo; Asdep Infrastruktur dan Konektivitas Rusli Rahim; serta Asdep Industri Maritim dan Transportasi Firdausi Manti melanjutkan peninjauan ke beberapa titik pembangunan infrastruktur di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya, di antaranya _Sand Pocket_ Kali Gendol, _Diversion Channel_ Kali Putih, dan Sabo Dam Kali Pabelan. Kegiatan tersebut dilakukan pada Minggu (04-04-2021).
“Lokasi yang kami kunjungi ini merupakan infrastruktur kebencanaan di kawasan Merapi yang berperan untuk menanggulangi dampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam,” ungkap Deputi Ayodhia Kalake saat kunjungan lapangan. Fenomena di tahun tersebut menjadi erupsi terbesar sejak kurang lebih 100 tahun lalu. Akibat kejadian tersebut, selama erupsi Gunung Merapi 2010 yang disusul banjir lahar dingin menyebabkan sebanyak 77 sabo dam yang berada di 15 sungai perlu mendapat rehabilitasi.
Faktanya, kejadian erupsi yang terjadi pada 10 November 2010 melebihi skala erupsi 10 tahunan yang menjadi acuan rencana induk penanggulangan banjir lahar Gunung Merapi yang dibuat tahun 2001. Aliran piroklastik yang terjadi saat itu mengalir sejauh 15 kilometer dari puncak di Sungai Gendol dan menyebabkan kerusakan di daerah sekitarnya.
Sebelum kejadian tersebut, Sungai Gendol memiliki kedalaman 40 meter dan ketika terjadi letusan, sungai tersebut tidak mampu menahan luncuran material sebanyak 140 juta m3. Akibatnya, dalam sekejap material meluap sampai ke pemukiman warga, merusak pemukiman, lahan pertanian, lahan peternakan, merusak fasilitas umum dan mengancam bangunan cagar budaya Candi Prambanan.
Aliran tersebut menyebabkan dasar Sungai Gendol di daerah hulu naik lebih dari 10 meter sehingga meningkatkan potensi longsor banjir lahar apabila terjadi hujan deras.
Salah satu upaya untuk mengantisipasi erupsi di masa mendatang adalah dengan pembangunan _sand pocket_ (kantong pasir) di tiga wilayah desa di Cangkringan, yakni Argomulyo, Wukirsari, dan Glagaharjo. Kantong lahar ini berperan sebagai penampung material pasir Merapi yang terbawa aliran lahar dingin.
Tanggul tersebut dibangun seluas 2.200 m3 dengan daya tampung sedimen 589.000 m3 yang telah selesai dibangun pada tahun 2018 yang lalu.
Letusan eksplosif pada tahun 2010 juga menyebabkan endapan abu vulkanik di wilayah barat daya Gunung Merapi. Ketika turun hujan deras, puing-puing hasil kikisan endapan vulkanik mengalir di Kali Putih dan sungai-sungai besar lainnya.
Akibatnya, Sabo Dam Kali Putih menerima kiriman banjir lahar dingin paling banyak, bahkan hingga menutup Jalan Nasional Yogya-Semarang. Perkiraan luas banjir dan volume puing-puing yang tergenang masing-masingnya adalah 530 ribu m2 dan 2,3 juta m3.
Mengantisipasi fenomena yang sama, pada tahun 2017 Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak telah selesai membangun pengarah aliran atau _diversion channel_ Kali Putih dengan panjang 2,8 km dan lebar 70m. Hingga saat ini, Kali Putih telah terbangun 24 buah sabo dam dari total sabo yang diperlukan sebanyak 31 buah sabo dam.
“Kali Putih sudah terbangun 24 buah sabo dam yang direncanakan dapat mengendalikan lahar dingin sebanyak 956,2 meter kubik,” sebut Kepala Satuan Kerja (Kasatker) BBWS Serayu Opak Gunawan.
Tinjauan Sabo Dam Kali Pabelan di Magelang
Sabo dam ini dibangun untuk menahan dan mengurangi kecepatan aliran lahar yang membawa material vulkanik sekaligus meminimalisasi resiko bencana banjir lahar di hilir Kali Pabelan. Hal ini dilakukan mengingat Kali Pabelan merupakan gabungan dari 3 sungai besar yaitu Kali Apu, Kali Trising dan Kali Senowo. Sabo dam ini berfungsi untuk mengendalikan lahar dingin, bukan difungsikan untuk menahan lahar panas.
Setelah erupsi 2010 yang menyebabkan banjir lahar, BBWS Serayu Opak melalui Konsultan Yachiyo Engineering Consultant mengkaji dan mengevaluasi kebutuhan bangunan sabo dam. Dari kajian tersebut dihasilkan “Review Masterplan Gunung Merapi 2017” yang merupakan pembaharuan dari Review Masterplan Tahun 2010.
Dari hasil kajian tersebut, pada tahun 2020 telah selesai dibangun 272 unit sabo dam di wilayah DIY dan Provinsi Jawa Tengah dengan daya tampung sebesar 13,93 jt m³. Namun masih diperlukan penambahan sabo dam baru sebanyak 95 unit dengan daya tampung 12,79 jt m³.
Searah dengan perjalanan, Kemenko Marves juga mendatangi pos peninjauan. “Lokasi ini hanya berjarak 4,4 kilometer dari puncak Gunung Merapi,” ungkap Kasatker Gunawan. Melalui pos ini, para pengamat Gunung Merapi melakukan _monitoring_ foto, video, dan seismograf.
Menutup kegiatan, Deputi Ayodhia mengingatkan agar aspek _maintenance_ dam menjadi perhatian, mengingat adanya kegiatan di lokasi yang dikhawatirkan dapat menyebabkan pendangkalan, juga berpengaruh pada pondasi dam.
Sebagai informasi, nantinya hasil kunjungan ini akan dilaporkan kepada Menko Marves Luhut Pandjaitan untuk ditindaklanjuti.(*)