Walikota Bekasi Terpilih Angkat Bicara Soal Mogoknya Pelayanan Publik

Bagikan:

222 hari jelang PON ke-19 dan Papernas Ke 15 diantaranya Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar dan jajarannya bersama pimpinan daerah Kota Bekasi Walikota Bekasi, Rahmat Effendi dan Wakil Walikota Bekasi, Ahmad Syaikhu dan unsur Muspida Kota Bekasi.

BEKASI SELATAN – WALIKOTA Bekasi terpilih, Rahmat Effendi akhirnya angkat bicara terkait tudingan terkait mogoknya pelayanan publik di sejumlah Kelurahan dan Kecamatan dialamatkan kepada dirinya.
Seperti diketahui, Rahmat Effendi kembali mendapat kepercayaan dari masyarakat Kota Bekasi dalam kompetisi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bekasi yang belum lama usai.
Rahmat Effendi mengatakan, dirinya sudah biasa menerima tudingan – tudingan negatif karena itu merupakan bagian dari resiko dan dinamika ketika menjadi sosok yang dipercaya menjadi seorang pemimpin. Namun yang paling penting, tetaplah menjadi seorang yang murah hati dan jangan biarkan sebuah jabatan membuat kita lupa siapa diri kita sebelumnya.
Ia juga mengatakan bahwa Pemimpin besar yang berhasil dan dihargai banyak orang adalah mereka yang sukses menguasai diri untuk tetap menjadi murah hati. Latih diri kita untuk tetap menjadi pemimpin yang rendah hati dan tidak terlalu berfikir untuk selalu diatas. Menjadi murah hati juga akan membawa kita untuk terus belajar dan belajar lebih baik dari sebelumnya.
“Sekarang media sosial menjadi barometer kebebasan orang. Mereka bebas menyampaikan apa saja dengan berbagai macam latar belakang dan tujuan yang berbeda, sehingga secara psikologi, menempatkan semua orang sama tanpa ada batasan pendidikan, kedudukan dan sebagainya,” ungkapnya, Minggu (02/09/2018).
“Pemimpin yang baik itu, harus mampu menjaga apa yang sudah terbentuk sebelumnya. Jangan mudah terpengaruh dengan arus yang membawa kita merubah apa yang sudah ada. Lakukan dan pastikan setiap perubahan yang kita lakukan itu untuk menuju menjadi yang lebih baik,” ucapnya.
Kaitan adanya tudingan menjadi dalang mogoknya pelayanan publik Kota Bekasi Rahmat mengatakan, itu pendapat, karena dimassa itu, dirinya bukanlah sebagai Walikota Bekasi lagi yang memiliki pengaruh dikalangan penyelenggara pemerintah untuk menghentikan pelayanan.
“Kalau ada yang mengatakan bahwa peristiwa mogok itu benar adanya, harusnya dievaluasi kenapa bisa terjadi, sehingga tidak berasumsi dan menuduh orang lain sebagai dalang mogoknya pelayanan publik. Jangan kita rendahkan penyelenggara pemerintah, karena mereka bukanlah anak kecil lagi yang gampang diperintah. Dan mereka tahu apa yang mereka lakukan,” paparnya.
Ia menambahkan, sangat mudah mencari bahan untuk menilai kesalahan orang lain, tapi sulit bagi sebagian orang untuk melihat sebuah kebenaran. Lihatlah persoalan itu dengan berimbang, bukan dengan berat sebelah, terlebih lagi pemihak – memihak, sehingga kita tidak jernih dalam menyikapi persoalan yang tengah berkembang.
“Pilkada sudah selesai, semoga dengan kehadiran Pj Walikota Bekasi yang baru, semua bisa duduk bersama. Belajar dari kejadian 7 bulan berlalu, kebersamaan harus dirajut kembali, begitu juga dengan keharmonisan demi satu tujuan kita yakni, Bekasi Cerdas, Kreatif Maju Sejahtera dan Ihsan serta memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kota Bekasi,” pungkasnya. (RON)

Bagikan: