Taiwan Bantu Sulsel Kembangkan Aplikasi UAV di Bidang Pertanian

JAKARTA – Taiwan Technical Mission telah berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Sulawesi Selatan untuk mempromosikan penggunaan pesawat tanpa awak (UAV) bagi kepentingan pengembangan bidang pertanian.

Keterangan pers Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) di Jakarta, Selasa (4/4/2023) menyebutkan, penggunaan pesawat tanpa awak dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari bahan kimia pertanian serta dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja di bidang pertanian.

Dalam kaitan ini, Taiwan Technical Mission melakukan eksperimen di wilayah Gowa Sulawesi Selatan yang menunjukkan bahwa mengganti penyemprotan manual dengan UAV dapat menghemat lebih dari 80 persen biaya dan mengurangi penggunaan air hingga lebih dari 90 persen.

Dengan demikian penggunaan UAV tidak hanya membantu memecahkan masalah kekurangan tenaga kerja di daerah pedesaan, tetapi juga membantu mengurangi dampak lingkungan. Fokusnya terutama pada aplikasi perlindungan tanaman, seperti penyemprotan pupuk dan pestisida (insektisida, fungisida, dan herbisida).

Disebutkan pula, kekurangan tenaga kerja pertanian dan populasi yang menua telah menjadi masalah yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia. Pemerintah berbagai negara secara aktif mendorong generasi muda agar terjun ke bidang pertanian untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalam konteks ini, promosi pertanian cerdas telah menjadi permufakatan internasional yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi permintaan tenaga kerja.

Dalam hubungan ini pula beberapa tahun terakhir Kementerian Pendidikan Indonesia dan Kementerian Pertanian telah mempromosikan kebijakan yang disebut “Petani Milenial” yang menggabungkan pertanian cerdas dan teknologi modern.

Kebijakan “Petani Milenial” itu dimaksudkan untuk mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan pertanian tradisional, sekaligus meningkatkan pendapatan petani dengan menarik lebih banyak generasi muda memasuki bidang pertanian.

Melalui acara demonstrasi, personel sektor publik yang relevan diundang untuk berpartisipasi dan diinstruksikan dalam penggunaan perangkat lunak tambahan seperti navigasi otomatis dan pemetaan medan untuk membantu mereka memahami potensi UAV sebagai mesin pelindung tanaman.

Pertanian tradisional sendiri membutuhkan banyak tenaga kerja untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida, sehingga mempromosikan penggunaan UAV dapat secara efektif membantu mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja di daerah pedesaan.

Pada saat yang sama, penggunaan UAV untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida juga dapat mengurangi dampak lingkungan. Tidak hanya jumlah bahan kimia yang digunakan lebih sedikit, penyemprotan juga lebih merata.(*)