Panggung Terapung V Tuntut Pemerintah Peduli Ruang Publik

Bagikan:

Suasana dialog publik di acara Panggung Terapung V , Minggu (24/08/2014)
Suasana dialog publik di acara Panggung Terapung V, Minggu (24/08/2014).

BERITABEKASI.CO.ID, BEKASI TIMUR – Panggung Terapung V kembali dihelat disisi kalimalang samping kampus Unisma oleh Komunitas Gerakan Kemanusiaan Bekasi yang merupakan gabungan berbagai organisasi dan komunitas diantaranya Sastra Kalimalang (SKM), Teater Korek Unisma, LMND, Rumah Sebaya, Bekasi Foto, Koperasu Pinggir Kali, Himikom dan Forum Teater Bersama, Minggu (24/08/2014).
Marathon acara panggung terapung ini diawali oleh aksi bersih kali yang dibuka oleh Wakil Walikota Bekasi, Ahmad Syaikhu yang digelar pada Minggu pagi dan dilanjutkan dengan ekspos karya yang memuat karya-karya fotografi serta pameran dan bazaar.
Rangkaian acara panggung terapung semakin menarik dengan dimulainya dialog publik dengan tema “Mengembalikan Ke’Indonesia’an Kita” yang menghadirkan Putu Oka Sukanta seorang Sastrawan Lekra dan Niko Adrian yang turut membidani lahirnya Gerakan 98.
Ketua Sastra Kalimalang, Ane Matahari menganggap acara ini sebagai wadah perjuangan demi mewujudkan ruang publik menjadi ruang untuk berkomunikasi segala unsur masyarakat tanpa membedakan status dan golongan.
“Kami selalu berjuang untuk menciptakan ruang-ruang publik menjadi ruang kultur dan menjadi ruang komunikasi tanpa sekat. Interaksi sosial yang berkesinambungan yang akan menjadi silaturahmi bathin yang tanpa melihat status dan latar belakang profesi,” ujar Pria yang sepintas mirip Jamal Mirdad ini.
Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Panggung Terapung V, Zaeni Boli berharap kegiatan seperti ini bukan hanya sebatas seremoni dan wacana belaka.
“Gagasan panggung terapung ini berawal dari konsep “River View City” yang merupakan hasil diskusi teman-teman yang peduli dengan Kota Bekasi,” ujarnya.
Zaeni berharap peran aktif pemerintah dan semua elemen masyarakat di Kota Bekasi untuk segera duduk bersama demi terwujudnya ‘River View City’ di Kota Bekasi.
“Saya harap pihak pemerintah bisa menangkap gagasan ini menjadi sebuah budaya untuk menjadikan kali Kota Bekasi menjadi tempat wisata budaya yang berbasiskan kearifan lokal,” pungkasnya. (wok)

Bagikan: