Kisah Inspiratif Wartawan, Menyambung Hidup dari Kuliah Usaha Odong-odong

JAKARTA – “Usaha yang selalu disukai sama anak kecil dan ibu-ibu biasanya paling lama bertahan”.

Dari imajinasi itulah semuanya berawal untuk membuat usaha odong-odong yang dilakukan di tahun 2003 silam.

Berbekal jaringan antara wartawan, pria bernama Dwi Septiaji ketika itu masih duduk sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) di Institute Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) ini mulai mencarinya dengan menghubungi rekan-rekannya diseluruh wilayah.

Singkat cerita, didapatlah satu tempat dikawasan Tangerang. Disambangi tempat tersebut dan bertemu dengan pemilik usaha perakitan odong-odong yang kala itu menjadi pusatnya.

Untuk 1 Odong-odong jenis gerobak kayuh ini berikut dengan 4 unit mainan, memerlukan modal sekitar Rp 5-7 juta, modal tersebut sudah termasuk jasa perakitan.

Bermodal tiga unit odong-odong type sepeda gerobak, pria kelahiran Jakarta 38 tahun silam ini tak malu mengayuh odong-odongnya untuk menyambung hidup dari tahun 2003 sampai sekarang.

“Prinsip saya pengen ngasih kerjaan buat orang yang mau kerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Alhamdulillah rejeki dari Allah SWT gak akan ketuker. Kita juga harus rajin sedekah, amal,” kata pria yang akrab disapa Aji.

“Yang narik odong-odong ini setoran, awalnya dulu Rp 25 ribu per hari. Tapi sekarang Rp 10 ribu,” ungkap Aji, yang pernah mempunyai 22 unit Odong-odong di wilayah pinggiran Jakarta Timur, Sabtu (9/11/2019).

Dari pengalamannya suka duka mengayuh gerobak odong-odong, selain bisa menyambung hidup dengan rejeki halal, dirinya mengaku senang bisa menghibur anak-anak.

“Senangnya itu pertama, saya bisa cari tambahan selain dari profesi saya sebagai wartawan. Kedua, memberikan kerjaan untuk orang-orang yang perlu tambahan untuk nafkah keluarga. Ketiga, bisa menghibur anak-anak dari gang sempit sampai perumahan elit. Dukanya itu, paling yah ban sepedanya bocor. Atau tapenya rusak. Dan yang paling nyesek itu kalo udah musim hujan. Pagi hujan kita gak bisa narik, sore lagi narik tiba-tiba hujan deras,” ujarnya.

Besaran tarif naik Odong-odong adalah Rp 2.000 satu/dua lagu, tidak menutup kemungkinan sering disewa untuk perayaan ulangtahun dan foto prewedding

Dari situ penarik Odong-odong bisa memperoleh penghasilan berkisar antara Rp 150-Rp 200 ribu per harinya.

Selain usaha odong-odong, Ayah dari 2 anak ini pernah nyambi menjadi supir truk yang pengangkut besi tua dikirim ke pabrik peleburan di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Saat menarik odong-odong, sebagai seorang yang berprofesi sebagai wartawan sering kali dia mendapatkan informasi dari pelanggannya.

Mulai dari keluhan naiknya harga Sembako, air PAM/PDAM kotor, pemadaman listrik, dan uang sekolah, sampai ribut antar tetangga dengan kekerasan.

“Dari informasi masyarakat itulah, biasanya saya sering buat pertanyaan untuk pemangku kebijakan di pemerintahan. Wawasan kita jadi bertambah,” jelasnya.

Kini, usaha odong-odongnya tersebut ditangani keluarga. Dia mengaku fokus dam setia pada profesinya sebagai seorang jurnalis disebuah media online.(*)