Dirjen Hubdat Kunjungi Korban Kecelakaan Tol Cipularang di RSU dr. Abdul Radjak Purwakarta

PURWAKARTA – Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kemenhub, Budi Setiyadi mengunjungi para korban kecelakaan lalu lintas di Rumah Sakit Umum dr. Abdul Radjak Purwakarta. Mereka adalah korban kecelakaan lalu lintas di Tol Cipularang km 91 arah Jakarta yang terjadi pada Senin siang kemarin (2/9).

“Saya diminta Bapak Menteri Perhubungan selain mengunjungi korban juga berkoordinasi dengan Kepolisian dan instansi terkait lainnya. Kementerian Perhubungan dan juga Komisi V DPR RI menyampaikan dukacita mendalam atas kejadian ini. Kami sampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban yang meninggal, semoga arwahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan bagi korban yang masih dalam perawatan semoga segera pulih,” kata Dirjen Budi.

Menyikapi hal ini, Dirjen Budi menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menggelar rapat dengan mengundang sejumlah instansi terkait. “Hari Jumat kami akan berkoordinasi dengan semua stakeholder terkait, Kepolisian, BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol), Jasa Marga, Kemen PUPR, KNKT untuk bertukar informasi terkait kasus-kasus yang selama ini sering terjadi di lokasi tersebut,” katanya.

Dirjen Budi menambahkan, “Kemarin tim kami sudah ke lokasi kejadian, dan tadi Kepolisian juga telah melakukan olah TKP”. Menurutnya di Tol Cipularang antara km 90 sampai 100 sering terjadi kecelakaan. “Jadi kita butuh treatment khusus untuk pembenahan,” lanjutnya.

Secara umum, di jalan tol, kendaraan dapat melaju hingga 100 km/jam. Namun di lokasi sudah terpasang rambu batas kecepatan maksimal 80 km/jam. Terkait hal ini, Dirjen Budi mengimbau pentingnya mematuhi rambu lalu lintas, “Rambu batas kecepatan harus sungguh-sungguh dipatuhi,” jelas Dirjen Budi.

Menyangkut kendaraan truk yang diduga over dimensi over load (ODOL) Dirjen Budi menyampaikan bahwa pihaknya akan mendorong Jasa Marga dan BPJT untuk segera memasang alat pendeteksi atau pun timbangan di pintu-pintu tol sehingga kendaraan yang ODOL dapat terdeteksi sejak awal.

Sebenarnya perbaikan terhadap fasilitas keselamatan di lokasi tersebut sudah dilakukan, baik masalah perambuan, maupun marka jalan, namun nyatanya kecelakaan masih saja terjadi. Oleh karena itu, menurut Dirjen Budi perlu adanya pendekatan tertentu. “Kondisi jalan tikungan dan turunan sehingga potensi kecepatan maksimal pasti ada di situ,” ungkap Dirjen Budi.

“Dari sisi perilaku pengemudi, perlu dicermati kebiasaan mereka ketika melewati lokasi tersebut seperti apa, baik pada pagi, siang, sore atau pun malam,” kata Dirjen Budi. “Yang paling penting nanti harus ada perbaikan yang kita lakukan. Kita rekomendasikan kepada Jasa Marga atau pun BPJT untuk melakukan perbaikan – perbaikan dari semua aspek,” kata Dirjen Budi.

Kemenhub akan merekomendasikan untuk mengoptimalkan kembali fasilitas keselamatan yang ada di sekitar km 90. Kemudian dari sisi perilaku pengemudi begitu juga kondisi jalannya. “Kejadian ini diharapkan bisa menjadi momentum bagi semua pihak. Pemerintah pasti akan melakukan langkah-langkah perbaikan kondisi jalan yang rawan kecelakaan. Masyarakat pun harus hati hati dan waspada. Mungkin kita bukan jadi penyebab, tapi bisa saja suatu saat, karena pengguna jalan lain, kita menjadi korban,” pungkas Dirjen Budi.(*)