Apakah Cawabup Dan Cabup Definitif Kabupaten Bekasi Bersih Dari Suap Meikarta


CIKARANG – Ramainya pemberitaan tentang pengunduran diri Bupati Bekasi non aktif Neneng Hasanah Yasin melalui surat yang dikirim ke pimpinan DPRD Kabupaten Bekasi beberapa hari lalu, sontak membuat beberapa kalangan memberikan tanggapannya. Salah satunya dari Aktivis Mahamuda Bekasi Jaelani Nurseha.

Dirinya mensinyalir bahwa pengunduran diri Bupati Bekasi Non aktif ini adalah karena pertimbangan banyak pihak di internal partai Golongan karya (Golkar) Khususnya dan Koalisi Partai Pengusung Bekasi Bersinar pada umumnya.

“Pengunduran diri Neneng Hasanah Yasin sebagai Bupati Bekasi selain agar proses hukum berjalan lancar, diduga karena pertimbangan elit partai untuk mempercepat definitif nya Eka Supriatmaja sebagai Bupati Bekasi” Terangnya kepada media.

Lalu ketika ditanya mengenai sosok wakil Bupati yang nantinya mendampingi Eka, dirinya berpendapat lebih condong kepada Novi Hasanah Yasin.

“Didalam politik kemungkinan selalu ada, dan kemungkinan itu selalu banyak. Kalau melihat kastuistis persoalan Meikarta dan konstalasi elit partai Bekasi menurut saya kemungkinan Besar kursi wakil akan diduduki oleh Novi Hasanah Yasin yang notabene adik kandung Bupati Bekasi Non aktif Neneng Hasanah Yasin” Tambahnya.

Selain itu, berkaitan dengan proses hukum kasus suap megaproyek Meikarta, dirinya menduga ada keterlibatan Plt Bupati Bekasi Eka Supriatmaja mengingat komunikasi baik antara Bupati Bekasi Non aktif beserta beberapa oknum Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kepada Wakil Bupati membuka celah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk terus melakukan penyidikan secara objektif dan berkesinambungan.

“Belasan anggota Dewan telah mengakui menerima aliran suap, dan memulangkannya. Tinggal kita lihat perkembangannya saja, apakah ada keterlibatan Eka yang pada saat itu menjadi wakil Bupati atau tidak?. NHY saja waktu itu, menyebut ‘Demi Allah’ tidak tahu, eh ternyata terlibat” Sindirnya