Dampak Pembangunan Tol Cibitung-Cilincing, Warga Buni Bakti Minta Ganti Rugi Rumah yang Rusak

Puluhan warga Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi mendatangi kantor Desa Buni Bakti, menuntut PT Waskita Karya agar segera menyelesaikan ganti rugi dampak dari pembangunan jalan tol Cibitung-Cilincing.

BABELAN – Puluhan warga Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi mendatangi kantor Desa Buni Bakti, menuntut PT Waskita Karya agar segera menyelesaikan ganti rugi dampak dari pembangunan jalan tol Cibitung-Cilincing.

Mereka menuntut ganti rugi lantaran rumah warga sekitar rusak akibat getaran tiang pancang pembangunan jalan tol. Kondisi tersebut dibenarkan Ajay, warga RT 03/ RW 02 Dusun I Desa Buni Bakti.

“Yang menjadi keluhan kami itu adalah kebisingan, keretakan rumah dan rusaknya jalan desa, itu semua diakibatkan karena sering dilalui kendaraan pengangkut material proyek tol tersebut dan alat berat,” ujar Ajay.

Selain rumah warga rusak, banyak warga yang mengeluhkan debu di wilayah proyek tersebut sehingga mengganggu kesehatan warga setempat.

“Pembangunan jalan tol Cibitung-Cilincing ini telah menimbulkan banyak dampak yang negatif pada lingkungan. Pihak PT Waskita Karya harus bertanggung jawab dan segera menyelesaikan kompensasi dan ganti rugi pada warga yang terkena dampak lingkungan dari pembangunan jalan tol tersebut. Jika dalam satu Minggu kita tunggu belum ada kabar kejelasannya, maka jangan salahkan kami masyarakat jika akan mengadakan aksi,” kesalnya.

Meski belum ada kejelasan mengenai ganti rugi dari PT Waskita Karya, Kepala Desa Buni Bakti yang belum lama dilantik, Sidi, berjanji akan memperjuangkan aspirasi warganya.

Terpisah, mantan Kepala Desa Buni Bakti, Dayatulloh, meminta kepada pihak PT Waskita Karya untuk menghentikan sementara proyek pembangunan jalan tol sebelum adanya kejelasan mengenai ganti rugi lahan tanah dan dampak lingkungan.

“Jangankan ganti rugi untuk pengadaan tanah, bicara untuk penyelesaiannya aja sampai saat ini belum ada, ini baru keluhan fisik yang belum diselesaikan, belum yang lain-lain,” paparnya.

“Selama itu belum ada pembicaraan penyelesaian, saya mohon dari pihak Waskita Karya tidak boleh melakukan kegiatan, karena tahapannya itu harus pengadaan tanahnya dulu baru bapak (pihak Waskita) bekerja, ini mah tahapannya belum ada penyelesaian, udah permisi masuk aja,” katanya.(jie)