Unsada Gelar International Photo Competition bertema Jepanese Culture

JAKARTA – Universitas Darma Persada(Unsada) Jakarta Timur, mengelar acara International Photo Competition bertema Jepanese Culture. Ini pertama kalinya Unsada berkolaborasi dengan Photo Coffee Community menggelar event dengan tema tersebut, Sabtu 7 Juli 2018.

Kegiatan ini menghadirkan delapan orang model lokal dan mancanegara antara lain Tokine Yamada (Jepang), Diana Rush (Rusia), Cindy Mamesah, Jennifer Tungka, Mohana, Grace Ratu, Ros Jully dan Dina Sabrina dengan para juri antara lain Ken Obet Sanjaya, Franky Go, serta perwakilan kampus Unsada.

Rektor Universitas Darma Persada Dr. Dadang Solihin menyatakan kegiatan ini memang cocok bagi mereka yang tertarik mempelajari budaya Jepang. Namun ia menyatakan tidak menutup kemungkinan lomba foto dengan tema budaya negara lainnya juga akan diadakan.

“Diprioritaskan untuk studi Jepang. Mungkin nanti ke depan kita juga akan adakan lomba foto ini tapi topiknya adalah China, Tiongkok atau Mandarin dan juga Inggris,” jelas Dadang Solihin saat ditemui di sela-sela kegiatan kompetisi foto.

Acara ini sendiri kata Dadang menjadi daya tarik tersendiri bagi Universitas Darma Persada, ditambah dengan kemampuan fotografi para mahasiswanya, juga sebagai saran menghargai budaya luar, seperti Jepang.

“Sebetulnya ini bisa membina anak-anak untuk mengembangkan diri, membuat kampus ini menjadi menarik, itu bisa dikaitkan juga dengan marketing dan lain sebagainya tapi sebetulnya tidak langsung ke sana tapi minimal mengembangkan, membina mahasiswa untuk bisa menghargai budaya-budaya lain dalam rangka mengembangkan budaya sendiri,” lanjut Dadang.

Adapun secara teknis, dalam kompetisi ini para mahasiswa Universitas Darma Persada berusaha sebaik mungkin menghasilkan foto dengan daya tarik tersendiri. Para model berpakaian dengan ciri khas Jepang seperti kimono lengkap dengan aksesoris khas Jepang.

Pemotretan pun dibagi menjadi dua tempat di outdoor dan indoor. Waktu melakukan pemotretan para model, peserta yang dibagi ke dalam beberapa grup diberi waktu sekitar 20 sampai 30 menit.

Dalam penilaian foto ini bukan dilihat dari cantiknya model tapi hasil dari foto yang diambil oleh para fotografer dan teknik foto yang digunakan, artinya di sini para fotografer berlomba mengambil foto dengan mencurahkan seluruh kreativitas mereka.

Juri berkeliling dan melihat bagaimana para fotografer mengambil foto 8 model yang diundang.

Ken Obet Sanjaya, fotografer senior yang sudah menjalani profesinya selama kurang lebih 38 tahun menyatakan hasil akhir foto yang menarik sangat menentukan penilaian.

“Kita tidak menilai dari apa yang difotonya tapi kita menilai dari hasil akhir, hasil kreativitasnya masing-masing fotografer. bukan juga kita lihat dari modelnya yang cantik atau bagus itu kan selera berbeda-beda, tapi kita lihat dari kreativitas para fotografernya dan usaha maksimal misalnya dalam mengatur sisi jauhnya cahaya dan angle,” jelas Ken.

Acara ini selain menarik bagi mahasiswa pencinta fotografi juga sekaligus mengenalkan budaya Jepang. Seperti diketahui ini merupakan kali pertama kompetisi foto diadakan dengan tema tersebut.(RON)