Petani Babelan Keluhkan Menyempitnya Aliran Irigasi

Petani di Cikarang sedang mengolah padi menjadi beras di area persawahan

BABELAN – Kali Kopeng ke barat DT8 Babelan, tak ubahnya seperti got rawa yang dipadati sampah rumput.

Kejadian ini kian menyempitkan keberadaan aliran air irigasi wilayah Kecamatan Babelan ke hilir lantaran ditumbuhi rumput di saluran air itu membuat endapan lumpur sehingga terjadi pendangkalan, sehingga dampaknya sangat dirasakan petani di wilayah tersebut.

“Ratusan hektar sawah di dua desa ini sudah mulai tanam padi tapi kekurangan air,” kata Asparudin (27) warga petani di Babelan.

Saat ini katanya, untuk menanam padi (tandur) di sawah kekeringan sehingga para petani menjerit.

“Kami berharap kepada Dinas PUPR dan Pertanian Kabupaten Bekasi serta Perum Jasa Tirta (PJT) II Bekasi untuk memperhatikan nasib petani di wilayah Babelan, agar kali irigasi DT8 ke barat yang masuk lingkungan Desa Babelan Kota dan Desa Kedung Jaya dilakukan normalisasi karena irigasi itu sudah menyempit,” ujar Sain anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bulaksana Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan, Jumat (11/5).

Untuk, Mitra Cai (Ulu – Ulu) Desa Kedung Jaya mengatakan, penyebab kekeringan air kali tersebut lantaran terjadi penyempitan aliran air dari Kali Kopeng ke Pulotimaha.

Keberadaan kali dianggap tidak sebanding dengan volume air yang ada di diirigasi DT 8 . Tak hanya itu, tumpukan sampah yang menyangkut di rumput semakin memperlambat aliran air.

“Tidak heran, air dari Kali Kopeng ke Pilotimaha itu tersendat, karena kalinya itu sempit.(jie)