Panwaslu Kota Bekasi Gandeng MUI Antisipasi Isu SARA

Novita Ulya Hastuti

BEKASI TIMUR – Panwaslu Kota Bekasi sudah bersiap mengantisipasi merebaknya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) pada Pilkada Kota Bekasi. Ketua Komisioner Panwaslu Kota Bekasi Novita Ulya Hastuti mengatakan lembaganya tengah bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi.

“Ini jelas jadi satu langkah kami mengantisipasi isu SARA dan politik identitas lainnya mempengaruhi Pilkada, karena selama ini masyarakat kita diadu oleh isu SARA yang tidak bertanggung jawab,” ujar Novita saat ditemui dikantornya belum lama.

Namun Novita melanjutkan, sejauh ini belum ada laporan terkait suatu parpol atau tokoh politik yang diduga melakukan kampanye hitam hingga ujaran kebencian berbau SARA.

Oleh karena itu, Panwaslu bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi akan terus mengkampanyekan pelaksanaan pemilu yang jujur, adil, dan jauh dari penggunaan isu SARA dalam setiap aktivitas keagamaan.

Panwaslu mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuka agama untuk tidak memanfaatkan SARA dalam kontestasi Pilkada yang bisa memicu terbelahnya masyarakat.

“Politik identitas dalam bentuk SARA merupakan PR bangsa, bukan hanya Panwaslu. Kami bersama MUI sedang bekerja mengimbau agar khotbah-khotbah di masjid terutama semasa Pilkada cenderung lebih menentramkan daripada menghakimi atau memicu konflik horizontal yang lebih tajam,” kata Novita.

“Kami juga sarankan agar masyarakat tidak mengkampanyekan tidak boleh milih si A atau si B karena agama dan menyalahkan agama lain. Karena kan tidak bisa disalahkan ketika pemilih memilih pilihannya berdasarkan agama atau tidak. Itu kan kebebasan seorang individu,“pungkasnya. (RON)