Koperasi dan Produk UMKM Kabupaten Bekasi Bersaing dengan Daerah Lain di Indonesia

Dinas Koperasi dan UMKM

CIKARANG – Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bekasi, Entah Ismanto mengakui, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bekasi saat ini terus mengejar produk-produk unggulan, dan memasarkan produknya. Produksi  UMKM juga diakuinya  sangat bagus.

“Hasil produksi dari UMKM Kabupaten Bekasi sudah bagus banget,” singkatnya.

Dalam beberapa kali lomba UMKM, Kabupaten Bekasi pernah masuk dalam juara.

“Tahun 2015 menang produknya makanan, 2016 juga menang lagi produknya makanan,” katanya.

Dia menyebutkan, produk asal Kabupaten Bekasi mampu bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia.

“Secara umum, Kabupaten Bekasi punya berbagai macam produk UMKM, seperti mobilan kayu, souvner kayu, telor asin, presto patin, bandeng, semur gabus, opak gambir, dan masih banyak lagi yang sudah bersaing dengan daerah lain di Indonesia,” bebernya.

Meski hasil produksi sudah bagus, menurut dia, harus didukung dengan kemasan yang bagus dan pemasaran yang tepat. Disitulah peran dari Pemerintah Daerah khususnya Dinas Koperasi dan UMKM turun tangan.

“Potensi yang kita punya ini sudah bagus banget. Butuh dukungan penuh dari Dinas Koperasi dan UMK, Dinas Pariwisata, dan Dinas terkait lainya untuk mempromosikan, dan memasarkannya,’ jelasnya.

Disisi lain, adanya pusat oleh-oleh Kabupaten Bekasi yang bisa dijadikan tempat bernaungnya hasil produksi UMKM.

“Kita punya potensi seharusnya bikin gerai, gak perlu bangun gedung, cukup sewa bangunan aja dulu untuk menampung semua hasil produksi UMKM. Agar pemasaran bisa lebih bagus lagi,” jelasnya.

Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bekasi

Pemerintah daerah juga harus mengimbau tamu kedinasan agar menginap dan membeli oleh-oleh di Pusat oleh-oleh Kabupaten Bekasi.

“Bisa saja diberi nama Bekasi Food Cetre, taua Cikarang Food City, dimana travelnya harus kita kasih tau untuk bawa rombongan ke sentra oleh-oleh Kabupaten Bekasi,” katanya.

Sudah saatnya, Kabupaten Bekasi ini punya gedung pameran untuk produk-produk UMKM tersebut. Bisa dibangun di 4 titik, yakni di wilayah Selatan, Timur, Barat dan Utara.

“Kita sudah usulkan hal itu ke Bapedda, tetapi memang hingga saat ini belum direspon. Untuk pemasaran produk memang masih belum maksimal karena belum adanya gedung pameran,” katanya.

Jadi selama ini, selain menyediakan gedung pameran pihaknya pun akan terus melakukan pembinaan kepada para pelaku UMKM untuk bisa menjajakan produknya di dunia maya atau secara online.

Salah satu lokasi yang mungkin bisa digunakan adalah Graha Pariwisata yang berada di area Komplek Stadion Wibawamukti. “Tetapi kalau bisa lahannya yang strategis, ramai dan dilalui angkutan umum,” kata dia.

Kalaupun berada di lokasi yang belum strategis, sambungnya, maka pemerintah daerah harus membantu mepromosikan keberadaan pusat jual beli produk-produk unggulan Kabupaten Bekasi tersebut.

Entah meminta agar Camat dan Kepala Desa bisa terus memperhatikan para pelaku usaha ekonomi kreatif dan UMKM di wilayahnya masing-masing.

“Camat dan para kepala Desa se Kabupaten Bekasi agar melakukan pembinaan dan kontrol terhadap potensi usaha kreatif, makro, kecil dan menengah yang ada di wilayahnya masing-masing,” pintanya.

Perhatian dari desa dan kecamatan mampu menggali potensi ekonomi unggulan daerah lebih baik lagi. Juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan sumber pendapatan masyarakat.

“Sehingga, para pelaku usaha kreatif, UMKM di Kabupaten Bekasi harus lebih diberdayakan secara intensif dan berkesinambungan,” ucapnya.

Selain pemasaran kata Entah, ada faktor permodalan yang terbatas dialami UMKM. Untuk itulah, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bekasi memberikan fasilitasi bantuan permodalan dari perbankan terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UKMM) Kabupaten Bekasi.

“Dengan dilakukannya fasilitasi tersebut diharapkan pelaku usaha mengerti dan memahami prosedur mengenai proses pinjaman di lembaga keuangan,” kata Entah Ismanto.

Entah berharap agar pelaku UMKM di Kabupaten Bekasi tidak hanya banyak secara jumlah, melainkan juga harus tangguh menjalankan usahanya karena mereka merupakan salah satu tulang punggung penggerak ekonomi.

Sejauh ini ada 2 ribu UMKM di Kabupaten Bekasi dengan pelaku usaha sebanyak 238 ribu orang. Namun pesatnya jumlah penduduk di Kabupaten Bekasi, UMKM pun semakin meningkat jumlahnya.

Dengan 23 Kecamatan dan 128 desa di Kabupaten Bekasi, terdapt 6000 pengusaha kecil dan menengah. Peningkatan jumlah pengusaha kecil mulai terasa sejak 3 tahun terakhir.

‘Hasil pendataan Dinas Koperais dan UMKM dari 3 tahun terakhir, terdapt 6000 pelaku usaa kecil dan menengah. Grafik peningkatan terus mengalami kenaikan. Pelaku usaha inilah yang nantinya akan terus dilakukan pembinaan agar usahanya terus berkembang,” jelasnya.

Angka 6000 pelaku usaha kecil menengah tersebut diluar pedagang atau pengusaha kecil yang nomaden atau berpidah-pindah tempat tinggal dan tempat usahanya.

“Untuk membantu mereka, Dinas hanya memfasilitasi untuk mengeluarkan rekomendasi yang akan meminjam modal ke BANK. Syaratnya harus terdaftar dulu di Dinas Koperasi dan UMKM. Dinas Koperasi belum bsa memberikan bantuan dana atau modal,” katanya.

UMKM terbanyak ada dibeberapa kecamatan di Kabupaten Bekasi, Tambun Utara, Tambun Selatan, Cibitung, Cikarang Utara, Cikarang Selatan, Cibarusah.

“Tambun Selatan itu sekitar lebih dari 200 UMKM, kemudian Cibitung,” ujarnya.

Produk Bandeng Bekasi. Bandeng presto yang sedang gencar pemasarannya

Dinas Koperasi dan UMKM sellu mengikutsertakan pelaku UMKM dalam rangka hari Koperasi, dan beberapa event lainya.

“Kalau dikumpulkan 6000 UMKM ya tentunya gak muat lokasinya. Namun, sekitar 500 UMKM pernah terlibat dalam berbagai event produk. Seperti ketika hari koperasi kita tampilkan ratusan hasil produksi UMKM,” bebernya.

Sementara itu, dari pandangan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi, Mulyana Muchtar, mengungkapkan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Koperasi dan UKM) sebaiknya meningkatkan kommunikas sampai pelosok desa.

“Pertumbuhan ekonomi di masyarakat kecil bisa jalan asalkan Dinas Koperasi dan UKM punya komitmen menggerakan potensi dari pelaku ukm maupun koperasi itu sendiri,” ujarnya.

Dibutuhkan komitmen dari Pemkab penguatan peran pelaku UMKM maupun koperasi dalam mendapatkan kemudahan fasilitas dan memperoleh pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Sebab, Pemkab masih setengah hati dalam memberi dorongan terhadap pelaku umkm maupun koperasi yang keberadaanya jelas-jelas sangat membutuhkan bantuan pinjaman dari pihak bank untuk memproduksi dan memasarkan karya kerajinan.

“Kalau sudah setengah hati menjalankan program ini, maka di lapangan akan sangat sulit, kecuali komitmen dari kepala daerah yang menekankan kepada dinas terkait untuk mendorong dan mendampingi pelaku UMKM bisa tampil eksis di tengah-tengah persaingan produksi industri berskala besar,” bebernya.

Sulitnya memperoleh fasilitas pinjaman modal tanpa jaminan kata Mulyana, memang menjadi kendala yang sering dialami pelaku umkm maupun koperasi.

Menurutnya, jalan satu-satunya kepala daerahnya harus mengambil langkah-langkah yang kongkrit bahkan tegas dalam menelah kesulitan yang di hadapi para pelaku usaha di Kabupaten Bekasi

Batik Bekasi perlu diangakt dan dipromosikan secara gencar mengingat hingga saat ini
keberadaannnya belum begitu populer di tengah-tengah masyarakat

Dukungan untuk perkembangan dan kemajuan UMKM di Kabupaten Bekasi juga datang dari Kepala Dinas Pariwisata Agus Trihono.
Dia menyebutkan, dalam beberapa kali event di Dinas Pariwisata selalu melibatkan pengusaha-pengusaha UMKM di Kabupaten Bekasi.

Misalnya, Batik Bekasi, yang dianggap perlu diangakt dan dipromosikan secara gencar mengingat hingga saat ini keberadaannnya belum begitu populer di tengah-tengah masyarakat.

“Tugas Dinas Pariwisata ikut membantu mempromosikan produk UMKM, seperti Batik Bekasi yang dibuat oleh UKM-UKM di kita dapat dipromosikan dan dikenal lebih luas baik di kalangan dewasa hingga anak-anak,” kata Agus Trihono.

Belum populernya Batik Bekasi, disebabkan karena eksistensi Batik Bekasi baru berlangsung 3 tahun.

“Dan tahun ini merupakan tahun pertama diselenggarakannya Festival Batik. Jadi memang kita harus lebih gencar memperomosikannya,” katanya.

Agus berharap dengan promosi tersebut, Batik Bekasi mampu memberikan efek positif bagi masyarakat Kabupaten Bekasi terutama dalam hal perekonomian.

“Tentu saja ini harus dilakukan secara intens dan mudah-mudahan ini bisa memberikan efek positif dalam hal ekonomi dan lain sebagainya,” ucapnya.

“Kalo itu bisa disuplai dari pengrajin-pengrajin yang ada di setiap desa, pasarnya sudah ada. Jadi nggak usah jauh-jauh pasarnya, dari dalam juga sudah bagus,” tambahnya. (adv)