DPRD: Disdik Harus Kembangkan Konsep Pendidikan Berbasis Kompetensi

Sihar

BEKASI TIMUR – Pansus 22 DPRD lakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan sejumlah SKPD di  lantai 3 gedung DPRD kota Bekasi, Jalan Chairil Anwar, Margahayu, Bekasi Timur, Kamis (2/11/2017).

Dalam kesempatan tersebut Anggota pansus 22 asal fraksi Hanura Sihar mengkritisi soal pendidikan berbasis kompetensi Dinas Pendidikan kota Bekasi yang tidak sedikitpun bicara soal pendidikan berbasis kompetensi.

Dikatakannya, persoalan penanggulangan kemiskinan di kota Bekasi tidak terlepas dari produk generasi angkatan kerja yang berdaya saing.

“Pendidikan berbasis kompetensi merupakan keniscayaan bagi sebuah kota besar berpenduduk 3 juta jiwa dimana bila hal ini tidak segera diantisipasi akan menambah buruk nasib jumlah angkatan kerja di kota Bekasi dan berpotensi menambah jumlah angka Kemiskinan baru,” ucap Sihar.

Menurut Sihar, Kalau kita bedah di kota Bekasi sekarang faktanya banyak diusia sekolah dasar dan menengah itu sebagian bisa tamat SMA lantas tidak dapat bekerja karena tidak memiliki kompetensi, ada juga yang putus ditengah jalan di bangku kelas 1 SMA karena masalah ekonomi, tentu ini persoalan kemiskinan di keluarganya. Kemudian juga ada yang tamat SMA namun tidak bisa melanjutkan kuliahnya ini juga kan kendala artinya tidak mampu menciptakan generasi yang punya daya saing.

“Setiap angkatan kerja di kota Bekasi maka harus mampu berdaya saing, bagaimana kita punya angkatan kerja yang memiliki daya saing kalau dia tidak dibekali dengan keterampilan khusus,” tegas anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi.

“Bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi harus ada wadah pendidikannya, itulah yang saya sebut dengan pendidikan berbasis kompetensi,” sambungnya.

Politisi Hanura tersebut menuturkan, Di kota lain seperti halnya di Jember ada pusat pembibitan pertanian dan perkebunan. Hampir di seluruh Indonesia meminta bibit unggul dari Jember contohnya tanaman coklat banyak yang mengambil bibitnya dari Jember.

Seperti kita ketahui, di Jember sendiri ada 4 Balai Latihan Kerja (BLK) untuk menciptakan generasi muda yang mempunyai daya saing pencari kerja dan hampir disemua kabupaten/kota di Jawa Timur itu minimal ada 2 BLK kebanyakan 3 sampai 4 pusat BLK dan jurusannya pun yang memang lagi tren dan memang dicari serta dipergunakan dimanapun di penjuru dunia misalnya mekanik untuk konstruksi, mesin, tehnik otomasi, pengelasan plat tebal dan tipis, pengelasan alumunium sehingga kita bisa menuju kepada era indrustialisasi, begitu mereka lulus laku kerja.

“Mereka juga memiliki sertifikat mulai dari juru las nya, mereka juga dibayar mahal keahliannya  bekerja di dalam maupun luar negeri bahkan hingga sampai 9000 dollar mereka dibayar hingga 100 juta, sementara pendidikan berbasis kompetensi kita disini hanya belajar bahasa tentunya kita ketinggalan, sangat ketinggalan kota Bekasi,” imbuhnya.

Sihar menambahkan, Dinas Pendidikan tapi tidak sedikitpun Dinas Pendidikan kita bicara soal pendidikan berbasis kompetensi, saya juga heran bagaimana ini terjadi sebuah kota besar metropolitan kota Bekasi dengan pertumbuhan penduduknya yang tembus 3 juta, Dinas pendidikan nya tidak berbicara terkait pendidikan berbasis kompetensi untuk mempersiakan generasi pencari kerja untuk mempunyai daya saing. Kalau hanya dibiarkan sekolah dan bisa baca untuk dirinya sendiri lalu punya ijazah mau cari kerja kemana?

“Apakah artinya kepemimpinan pemerintahan Rahmat Effendi dan Ahmad Syaikhu tidak mampu meng upgrade jumlah angkatan kerja setiap tahunnya,” tandasnya. (ADV)