Dua Politisi PAN Kota Bekasi Diduga Sewa Preman ‘Gebukin’ Wartawan

Randy Yasetiawan menunjukan laporan kepolisian tentang tindakan pemukulan dan pengeroyokan yang dialami oleh dirinya, Kamis (19/02/2015).
Randy Yasetiawan menunjukan laporan kepolisian tentang tindakan pemukulan dan pengeroyokan yang dialami oleh dirinya, Kamis (19/02/2015).

BERITABEKASI.CO.ID, KOTA BEKASI – Kasus kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi di Kota Bekasi, Jawa Barat. Kali ini tindakan kekerasan tersebut menimpa wartawan koran Radar Bekasi (Jawa Pos Grup), Randy Yasetiawan Priogo (27). Randy, dianiaya oleh tiga orang tak dikenal yang diduga suruhan dari politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Bekasi. Peristiwa pengeroyokan itu terjadi di dalam Rumah Makan Bumbu Araunah, Jalan Serma Marzuki, Margajaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, sekira pukul 17:00, Kamis (19/02/2015).

Sebelumnya, Randy mengaku dihubungi oleh salah seorang politisi PAN dan mengajaknya bertemu pada pukul 17.00 WIB di rumah makan tersebut. Akan tetapi malang yang didapat oleh Randy setelah masuk ke rumah makan tersebut, setelah bersalaman serta sedikit berdialog dengan politisi PAN tersebut, dia malah dipukuli dan dihujani tendangan oleh tiga orang tak dikenal di bagian wajah dan bahunya hingga mengalami luka – luka memar. Selama 15 menit kemudian dia menjadi bulan-bulanan tiga orang tersebut dengan disaksikan oleh dua orang politisi partai besutan Hatta Rajasa itu.

“Waktu saya datang disana ada Ketua DPD II PAN Kota Bekasi Faturrahman, Ketua DPC PAN Bekasi Utara, Iriansyah, selanjutnya tiga orang preman suruhannya muncul dan langsung memukuli saya,” ungkapnya, usai membuat laporan polisi bernomor: LP/278/K/II/2015/SPKT/Resta Bekasi Kota di Mapolresta Bekasi Kota, Kamis (19/02/2015).

Aksi pemukulan diduga terjadi setelah emosi para politisi PAN tersebut memuncak dan juga diduga karena mereka merasa berita yang telah terbit sehari sebelumnya, tidak sesuai dengan pernyataan yang dia keluarkan.

Padahal menurut Randy, dirinya sudah melakukan konfirmasi dan juga menuliskan berita sesuai dengan pernyataan yang dia dapatkan pada saat wawancara terkait musyawarah nasional PAN yang akan digelar pada Maret 2015 mendatang.

“Padahal saya menulis sudah sesuai dengan fakta dan sudah konfirmasi, tapi malah langsung main pukul,” katanya.

Tak hanya itu, selain mengalami pemukulan, Randt juga mengaku diancam akan dihabisi jika tidak mempertemukan antara Ketua DPC PAN Jatiasih, Afrizal dengan Ketua DPD PAN Kota Bekasi, Faturrahman. Pertemuan tersebut dipinta oleh Faturrahman, agar Afrizal dan Randy bersujud dan meminta maaf kepada Ketua DPD PAN Kota Bekasi, Faturrahman.

“Saya dipaksa menyerahkan KTP dan langsung dicatat sama mereka alamat rumah saya. Dia bilang hati-hati karena sudah dicatat alamat rumahnya. Waktu saya nyerahin KTP saya ditampar sama preman itu, saya juga lihat Ketua DPD ngasih kode tiga orang preman itu agar mukulin saya,” ujarnya lirih.

Menanggapi tindakan kekerasan terhadap wartawan, Ketua Asosiasi Jurnalis Independent (AJI) Jakarta, Umar Idris mengatakan bahwa kekerasan yang menimpa wartawan dapat dijerat dengan Pasal 18 ayat (1) dan (2), UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Dalam aturan tersebut jelas terdapat adanya larangan tindakan melakukan penghalangan pada kinerja jurnalis dan tindakan kekerasan kepada jurnalis.

“Berarti politisi PAN itu tidak paham aturan undang-undang, dia bisa dijerat undang-undang pers dengan ancama penjara dua tahun, dan denda Rp 500 juta,” ujarnya ketika dihubungi via seluler.

Umar menjelaskan, jika ada pihak yang merasa keberatan dengan adanya pemberitaan yang telah diterbitkan oleh media, mereka punya hak untuk meminta ralat dan koreksi. Pihak media yang telah menerbitkan berita pun memiliki kewajiban untuk memuat ralat tersebut sebagai koreksi pada pemberitaan yang telah terbit sebelumnya.

“Kami sangat menyesalkan hal ini bisa terjadi, kalau sudah menyampaikan ralat tetapi tidak dimuat itu yang salah medianya, tapi ini malah melakukan tindakan main hakim sendiri,” katanya.

Lebih lanjut Umar menyarankan, agar korban serta media terkait melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian untuk menjerat pelaku dengan undang-undang pers. Karena tindak kekerasan yang terjadi merupakan imbas dari berita yang telah diterbitkan.

Terkait aksi penganiayaan terhadap wartawan ini, puluhan wartawan Bekasi akan melakukan aksi unjukrasa di kantor DPD PAN Kota Bekasi dan juga di ruang Fraksi PAN DPRD Kota Bekasi.

“Kami akan menggelar aksi, supaya tindak kekerasan ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” kata Agung Sulistyo, jurnalis Berita Bekasi, penggagas aksi tersebut. (wok)