Mantan Pejabat ini Terjerat Kasus Korupsi Lagi

Kejaksaan Tinggi Jawa Barat menggiring tesangka Islamci Center Kabupaten Bekasi ke Rutan Kebon Waru, Bandung.
Kejaksaan Tinggi Jawa Barat menggiring tesangka Islamci Center Kabupaten Bekasi ke Rutan Kebon Waru, Bandung.

BANDUNG – Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kajati Jabar), Feri Wibisono mengungkapkan, telah menahan tersangka mantan Kadis Tarkim Kabupaten Bekasi, Porkas Pardamean Harahap di rumah tahanan (Rutan) Kebon waru, Bandung.

Pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Distarkim) Kabupaten Bekasi, terbukti melanggar pasal 2, 3, dan 7 ayat (1) a, Junto pasal 18 Undang-undang (UU) Nomor 31 Junto UU Nomor 20, tentang tindak pidana korupsi, Junto pasal 55 ayat (1) ke 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dengan total kerugian negara sementara sebesar Rp 8,9 Miliar.

“Terhitung Senin (19/01) sampai 20 hari kedepan, tersangka Porkas ditahan di Rutan Kebon waru, dengan Surat Perintah penahanan (SP Han) Nomor 31/0.2/Fd.1/2015,” ungkapnya.

Saat menjalani pemeriksaan, tersangka Porkas didampingi penguasa hukum saudara Amir dan rekannya yang tergabung dalam kantor bantuan hukum Amir Hadi SH dan rekan (AHD).

“Porkas diancam kurungan minimal empat tahun, maksimal 20 tahun dan denda minimal Rp 200 juta, maksimal Rp 1 Miliar,” singkatnya.

Ditempat yang sama, Kasipenkum Kejati Jabar, Suparman menceritakan kronologis pemeriksaan kasus Islamci Center. Pada tahun 2010, Pemkab Bekasi mengalokasikan anggaran pembangunan Islamic Center tahap satu, senilai Rp 35.241.766.000.

Anggaran itu dialokasikan untuk pembangunan gedung aula pembangunan asrama putri dan pembangunan kantor. Dalam pelaksanaan, pemenang tender adalah PT Nugraha Adi Taruna, dengan direkturnya, Gusti Yudi Rahman.

“Kemudian dijual kepada Pardi Supriyadi, dengan kompensasi Rp 300 juta. Modusnya, Pardi supriyadi sebagai pimpinan cabang PT Nugraha Adi Taruna. Kontrak kerja ditandatangani oleh Pardi. Karena Pardi tidak memiliki modal, sebagai pemodalnya adalah Haji Asmat,” ujarnya.

Dana pembangunan pekerjaan Islamic Center tahap satu ditransfer ke rekening Pardi sebesar Rp 19.972.755.815, melalui Bank DKI nomor rekening 41108020265, atas nama Pardi.

“Kemudian oleh Pardi ditransferkan kembali ke rekening Asmat. Dari Asmat, akhirnya pekerjaan kontruksi selanjutnya dijual kepada Edenta Sinuraya. Hasilnya, pembangunan gedung Islamic Center gagal kontruksi. Itu berdasarkan hasil ahli dari Institut Teknologi Bandung,” bebernya.