Indonesia “Panen” Kasus Kekerasan Seksual Anak

IMG-20130803-WA000
Nanang Djamaludin

BERITABEKASI.CO.ID, JAKARTA – Maraknya kasus kekerasan seksual yang menimpah anak dibawah umur, membuat Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Nanang Djamaludin merasa prihatin. Menurutnya, kekerasan seksual saat ini sedang memasuki tahap panen raya, yang tidak juga menunjukan tanda-tanda berhenti.

“Jika pada kasus panen raya komoditas pangan secara berlimpah, tentu kita mensyukurinya. Tapi jika panen raya kekerasan seksual, tentu masyarakat Indonesia mengutuk keras kecenderungan itu,” kata Nanang kepada beritabekasi.co.id, di Jakarta, Jumat (30/05/2014).

Pria yang juga menjabat sebagai konsultan Hypnoparenting and Hypnofamily Consulting itu, mencatat ada tiga kecenderungan umum yang berlangsung terkait kekerasan seksual.

Pertama, jika mengacu pada data-data dari sejumlah lembaga anak seperti Komnas Perlindungan Anak (KPAI) dan kepolisian, kasus kekeras terhadap anak cederung meningkat dari tahun ke tahun.

Kedua, peningkatan kasus juga disertai peningkatan kualitas kekerasan seksual. Pasalnya, kekerasan seksual yang berlangsung saat ini sudah pada taraf sulit dibayangkan dan diterima akal sehat.

“Seperti anak bayi yang diperkosa ayahnya, orangtua kandung menghamili anaknya yang masih SD, ayah menyetubuhi anaknya hingga menularkan penyakit kelamin sampai sang anak meninggal,” katanya.

Ketiga, lanjut Nanang, kekerasan seksual pada anak, kini juga banyak melibatkan anak di bawah umur sebagai pelakunya, seperti kasus anak SD memperkosa temennya yang juga masih SD.

“Bahkan sudah mulai muncul pula aksi kekerasan seksual, dengan sejumlah pelaku anak mempraktekan threesome kepada anak korban,” paparnya.

Menurutnya, bagi anak yang mengalami korban kekerasan seksual, memerlukan waktu lama serta penanganan yang serius seperti terapi intensif, untuk menghilangkan trauma serta memulihkan kondisinya, hingga sang anak mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.

“Minimal si anak menyaksikan pelaku dihukum seberat-beratnya, dan menumbuhkan optimisme dalam dirinya, bahwa masa depannya akan jauh lebih baik,” katanya.

Lingkungan yang baik, kata dia, seperti keluarga, temen sekolah dan lingkungan masyarakat yang menyayanginya, dapat menjadi landasan utama bagi si anak mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.

“Lingkungan keluarga, teman sekolah serta masyarakat harus dibangun kesadarannya dalam mendukung proses pemulihan atas korban, guna mendapatkan kepercayaannya diri kembali,” pungkasnya.

(Bwk)